Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Contoh Hortatory Text: Traffic Jam In Yogyakarta



Structure text: Thesis, Arguments, Recomendation

Have you ever thought how the condition of the traffic in Yogyakarta is? Is it comfortable or crowded? I think most of the people feels that there is a traffic jam in Yogyakarta recently, so do I. Owing to the jam, polution can be found everywhere. Indeed I wish there weren’t. When we will go to some places such as school, office, market, etc, we need long time to reach there. It is caused by a traffic jam. There are some reasons for it.
         
 First, most of the roads are so narrow enough for vehicles that they have to run slowly, it’s difficult to precede each others so it becomes crowded and noisy. It often makes impatience of the driver because they won’t come late to reach their place. Bring the emotion up, and the drivers become individualist. Whereas I wish people cared surround and the others.
        
 Second, Yogyakarta is a city of education. A lot of people from other city study here and use their own motorcycles. It can add the number of motorcycles in Yogyakarta. They make them become the king of the roads. Not only a city of education, Yogyakarta is also a city of tourism. Of course it is visited by many people all over the world both of domestic and foreign tourists. Especially for the domestic tourist, they drive their own car and for the foreign one, they rent cars to drive from one place to others. Certainly it can add a number of vehicles in Yogyakarta that can make the roads become crowded, and again it can cause traffic jam. 
          
 Finally  most of the people in Yogyakarta haven’t obeyed the traffic regulation yet. They usually drive their vehicles carelessly. They often run straight when the traffic light is red. Sure it can annoy other drivers from against directions. Due to their carelessness, it has bad effect for others. It often causes traffic jam in the crossroad or intersection and it even becomes accident. Furthermore some driver don’t have driving licence. They don’t care it. 

From the reason above, the government should add the traffic sign in any places and strongthen the traffic rules. And I order the police to give a punishment to the driver that doesn’t obey the rules. They may not make any distinction including one who doesn’t have driving licence. In adition, it should be important to make a road with one direction of traffic lane. I think there is a chance to make Yogyakarta pleasant. All of the people let the rules resoluted.

Minggu, 21 Juli 2013

Broken Home; Tidak Selalu Akibat Perceraian

Oleh: Cecelia Dwi W
Narasumber; Galuh Setia Winahyu, M.Psi.,Psi.
Supervisor & People Development di Graha Karir ECC UGM
Dosen STIPSI Yogyakarta

                Pandangan ‘anak broken home’ menurut banyak orang adalah anak yang menjadi korban cerai orangtuanya, yang tidak lagi tinggal dengan orangtua yang utuh. Namun pernyataan tersebut salah. Broken home tidak selalu terjadi akibat perceraian, namun fungsi keluarga yang tidak lagi berperan dengan baik.
                Ada orangtua yang mempertahankan keluarganya, tidak cerai hanya karena menjaga perasaan anaknya. Namun tetap bisa menjadi broken home apabila anggota keluarga tersebut sudah tidak menjalankan perannya dengan baik. Faktor utamanya adalah tidak adanya komunikasi yang bagus antara anggota keluarga.
                Perceraian orangtua tidak selalu berdampak pada anak yang menjadi nakal. Semua itu tergantung pada pola asuhnya sejak dini, serta lingkungan yang nyaman. Karena dua hal tersebut dapat menjadikan anak terbuka pada kedua orangtuanya. Jika tidak, anak tidak berani menyampaikan maksud dan amarahnya kepada orangtua ‘jangan cerai,’ sehingga ia mencari pelarian untuk mendapat perhatian.
                Untuk menghilangkan rasa luka bagi anak korban perceraian, usahakan dengan kegiatan positif supaya dapat mengalihkan perhatian dari sesuatu suram yang ada di rumah. Dalam dirinya pasti ada kekecewaan, tapi kedua orangtua yang masih komunikasi dengan baik akan dapat meminimalisir perasaan anak tersebut.
Jika kita memiliki teman yang sedemikian, support-lah agar tetap semangat, jadilah teman curhatnya agar ia tak memiliki banyak beban. Anak itu pasti susah mengungkapkan permasalahannya, namun jika sudah dipancing pasti akan mengalir dengan sendirinya dan akan membuatnya lega.
Jika ia terpuruk terlalu dalam harus ada penanganan intensif, guru BP di sekolah atau konsultasi ke psikologi.
Galuh Setia Winahyu, M.Psi.,Psi

Sabtu, 20 Juli 2013

Bersahabat Dengan Mantan - Koki Kaca Angkatan 19 Edisi 5

Pacaran adalah salah satu dari banyak hal yang identik dengan dunia remaja. Begitu juga efek sampingnya yaitu putus. Kebanyakan memilih untuk menjaga jarak dan seolah ‘memusuhi’ mantan.
Jauh berbeda dengan Satya (bukan nama sebenarnya), dia pernah berpacaran dengan teman SMP nya. Sempat dipertahankan, namun akhirnya dia menerima permintaan putus dari mantannya. “Kalau kita jodoh pasti kita bakalan ketemu lagi.” kalimat perpisahan yang masih diingat karena sampai sekarang (kelas XI) mereka satu sekolah, bahkan satu kelas!
Dia mengaku, meskipun saat ini memiliki pacar baru yang juga satu sekolah, namun hubungannya dengan mantannya masih baik-baik saja. Selain bercanda di kelas, pinjam catatan dan belajar bareng, bahkan mereka pernah memerankan tokoh drama yang menyatakan cinta. “itu ditunjuk sama guruku. Waktu latihan ya ngakak terus, pegangan tangannya bikin KSBB. Sama temen ya digodain, di cie-cie gitu” jelasnya.

Ada juga teman kita yang tidak mau disebut namanya, dari SMK Negeri 2 Kasihan Bantul (SMSR) yang masih menjaga hubungan baik dengan mantannya. Menurutnya, kalau jadiannya baik-baik, putusnya harus sama baiknya. “Rasa kecewa sih ada. Tapi buat apa? Lagian dia mutusin aku dengan alasan yang baik, dan dia nggak memusuhi aku. Jadi, aku malah bisa sahabatan dengan dia.”
Dia juga mengaku bahwa persahabatannya dengan sang mantan tentu ada suka dukanya. “Seneng sih dia masih mau komunikasi sama aku, jadi hubungan baik nggak terputus. Nggak enaknya kalau mau main bareng gitu dia takut kalau pacarnya salah paham.”

Serupa tapi tak sama. Salah satu pelajar SMA Negeri 8 Yogyakarta mengaku putus karena perbedaan agama. “Dia orangnya asyik, enak diajak curhat, dan lebih dewasa dari aku. Sehingga aku bisa minta solusi dari dia. Kita putus juga baik-baik, dengan alasan yang jelas. Jadi ya masih tetep temenan.” Hal tersebut yang membuat ia merasa nyaman bersahabat dengan mantan. “Awalnya memang susah, terutama pas barusan putus. Tapi, buat apa sih nyimpen dendam malah bikin musuh. Mending cari temen yang banyak.” Anggapan tersebut dibenarkan oleh Satya. Mereka mengungkapkan sisi nggak enaknya adalah masih sering teringat kenangannya ketika pacaran, bahasa gaulnya mungkin sudah sering kita dengar sebagai ‘KSBB’.

Deya Silvia Dewi, siswi SMA Negeri 11 Yogyakarta telah berpacaran empat tahun dan alasan putusnya tidak sesuai dengan kenyataan. “Dia bilang pengen sendiri dulu, tapi dia juga minta habis putus tetep temenan” jelasnya. Alasannya diterima, namun disisi lain Deya mendapat informasi dari teman yang mengetahui kejujuran mantannya bahwa alasan minta putus karena Deya dianggap lebay dan rewel karna sering nelfon jika smsnya tidak dibalas. Selain itu Deya mengetahui bahwa ada’inceran’ cewek lain, “mention nya di twitter tuh akrab banget, terus juga di pacokin sama temen-temennya.”

Beberapa lama kemudian, sang mantan minta dianggap pacar oleh Deya, “gak mau ada kata balikan karena nanti ada kata putus” alasannya. Deya merasa masih pantas mempertahankan hubungan karena sudah dekat dengan keluarganya. “Eman kalau cari yang lain dan harus adaptasi lagi. Dulu pernah deket sama kakak kelas tapi enggak cocok” tambahnya. Dalam kedekatannya saat ini Deya lebih sering memanggil mantannya dengan panggilan ‘mas’ karena faktor usia yang satu tahun lebih tua darinya. Deya juga mengaku lebih nyaman sekarang meskipun menurutnya itu hubungan tanpa status, ”karena aku seneng bisa deket meskipun enggak pacaran.”

 oleh: Cecelia Dwi (SMA 10 Yk) dan Erwita Danu (SMA 7 Yk)
sebagai laporan utama rubrik remaja KR edisi 5

Kamis, 13 Juni 2013

Tradisi Omed-omedan Desa Sesetan, Denpasar


I.                   Pengertian dan sejarah

Dalam bahasa Indonesia, omed-omedan berarti tarik-menarik.Namun dalam bahasa Bali, sama halnya dengan paid-paidan yang artinya juga tarik-menarik. Tradisi omed-omedan adalah upacara adat yang diperingati warga Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Konon mulanya, usai Hari Raya Nyepi, teruna-teruni (pemuda-pemudi) sekitar kerajaan Puri Oka menggelar permainan med-medan. Mereka tarik-menarik, semakin seru dan gembiranya mereka kemudian saling merangkul, dan keadaan menjadi gaduh karenanya. Susasana ricuh tersebut didengar raja Puri Oka yang sedang sakit, beliau marah besar dan kemudian ia berniat keluar untuk menghardik sumber kegaduhan tersebut. Namun setibanya ia di luar dan menyaksikan adegan itu, amarahnya hilang. Sejenak rasa sakitnya berkurang, dan mendadak hilang hingga ia sehat seperti sediakala. Sang raja dapat tersenyum, dan bahagia kembali.
Semenjak saat itu, raja lalu mengeluarkan titah agar omed-omedan dilaksanakan tiap tahun, tiap tanggal satu tahun Cakka kalender Bali, atau yang dikenal dengan Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Menurut I Gusti Ngurah Oka, tradisi ini merupakan luapan kebahagiaan anak-anak muda saat Ngambek Geni. Selain sebagai unsur hiburan, sampai saat ini tradisi omed-omedan memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah penghormatan terhadap leluhur, memupuk rasa kesetiakawanan dalam kerangka saling asah, asih dan asuh. Juga menjaga keharmonisan hubungan sesuai dengan norma yang berlaku, membangun solidaritas dan persatuan masyarakat dalam situasi bahagia.



 I.                 Prosesi Omed-omedan

      Para teruna-teruni yang mengikuti tradisi adalah warga Banjar yang menginjak dewasa namun belum menikah, umumnya berusia tujuhbelas hingga tiga puluh tahun. Sebelum acara dimulai, sekitar pukul 14.00 wita, mereka berkumpul untuk bersembahyang bersama. Seusai kegiatan tersebut, semua peserta dibagi menjadi dua kelompok. Yang putra menjadi satu barisan, dan yang putri berada pada barisan lain. Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa. Setelah seorang sesepuh desa memberikan aba-aba, kedua kelompok saling mendekat. Peserta yang akan melakukan tradisi ini digendong sesuai urutannya, kemudian dipertemukan dengan pasangan lawan jenisnya. Setelah bertemu pada suatu titik kemudian mereka saling tarik-menarik, berpelukan dan berciuman disaksikan ribuan penonton, warga sekitar maupun wisatawan.
      Prosesi tersebut dilakukan bergantian dan bergiliran hingga semua peserta kebagian berciuman. Namun menurut cerita, untuk mencium pasangan tidaklah mudah, mengingat ramainya dan berjubel para penonton yang memadati area. Bagi mereka yang berhasil mencium pasangannya, dibolehkan berhenti setelah para tetua adat membunyikan peluit. Jika tidak berhasil, pasangan tersebut akan disiram air hingga basah kuyub. Awalnya siraman air ini hanya diberlakukan untuk pasangan yang gagal berciuman, namun karna antusias dengan kemeriahan tersebut, hampir tiap peserta diguyur setelah usai berciuman. Sehingga tradisi ini memang rentan dengan air dan basah-basahan.



II.              Pro dan Kontra
      Tidak semua masyarakat Bali, bahkan warga Desa Sesetan sendiri, menyetujui tradisi Omed-omedan. Dengan berbagai alasan, seperti adanya undang-undang pornografi, ketidaksesuaian dengan norma kesopanan, dan kontra lainnya. Tradisi ini pernah ditiadakan pada sekitar tahun 1970-an oleh keputusan para sesepuh Banjar. Namun tak lama berselang, ada kejadian aneh dan unik yang terjadi di pelataran Puri Oka. Yaitu perkelahian antara dua ekor babi yang asal-usulnya tidak diketahui kepemilikannya, dan darimana. Anehnya, di tengah perkelahian, dua ekor babi tersebut menghilang seketika. Oleh warga sekitar, kejadian tersebut dianggap sebagai pertanda buruk. Maka Omed-omedan pun kembali dijalankan sebagai tradisi tiap tahunnya.

 I.                 Lampiran
   





sebelum dilakukan prosesi, teruna teruni sembahyang dulu

ritual sembahyang

ini nih suasana omed omedan, ramai kan?
Nah ini barisan teruni

barisan teruni antri giliran





* Omed-omedan memiliki seragam khusus tiap tahunyya. Artikel diatas diambil dari berbagai sumber yang kemudian saya olah dengan bahasa sendiri. Untuk gambarnya, saya hanya googling hehe maklum belum pernah menyaksikan omed-omedan secara langsung.