Kamis, 08 Januari 2026

Review Kelebihan Hiace Premio untuk Wisata Rombongan

Untuk wisata rombongan di Jogja, kebutuhan transportasi yang nyaman dan memadai menjadi faktor penting. Salah satu unit yang semakin diminati adalah Toyota Hiace Premio, varian terbaru Hiace dengan berbagai peningkatan pada desain, kenyamanan, dan performa. Artikel ini akan membahas kelebihan Hiace Premio sebagai transport terbaik untuk perjalanan rombongan.

Kapasitas Penumpang Ideal Untuk Rombongan

Hiace Premio memiliki kapasitas hingga 14 kursi penumpang dengan layout ergonomis, memberikan ruang kaki lebih lega dibanding generasi sebelumnya. Konfigurasi ini sangat ideal untuk:
- Family trip
- Corporate outing
- Study tour sekolah
- Rombongan wisata
- Penjemputan tamu hotel atau bandara

Kenyamanan Interior Tingkat Tinggi

Salah satu daya tarik Hiace Premio adalah interior yang dirancang untuk kenyamanan perjalanan jauh. Fitur yang menunjang kenyamanan:
- Kursi reclining dengan bahan premium
- Legroom luas
- AC double blower merata ke seluruh kabin
- Suspensi lebih stabil dan lembut
- Kabin kedap suara untuk perjalanan tanpa bising

Bagasi Lebar untuk kebutuhan wisata

Untuk rombongan yang membawa koper atau peralatan kelompok, Hiace Premio menawarkan ruang bagasi lebih lapang. Hal ini menjadi nilai tambah ketika wisata sekaligus menginap, event kampus, gathering perusahaan, atau mobilitas bandara.

Performa Mesin Tangguh dan irit

Hiace Premio dibekali mesin diesel yang responsif dan efisien, kuat untuk medan luar kota seperti Merapi, Bantul, Kulon Progo, atau Pantai Gunungkidul. Kombinasi irit dan kuat menjadikan biaya perjalanan lebih ekonomis.

Desain Eksterior Modern dan Elegan

Berbeda dari tampilan Hiace generasi sebelumnya, Premio hadir dengan desain lebih modern dan elegan, meningkatkan kesan profesional untuk kebutuhan corporate dan tamu VIP.

Mengapa Banyak Operator Memilih Hiace Premio?

Dari sisi operator maupun pengguna, Hiace Premio dirasa unggul karena:
- Harga operasional efisien
- Tingkat kenyamanan tinggi
- Durabilitas baik untuk jarak jauh
- Cocok untuk mobilitas wisata maupun bisnis

Hiace Premio vs Hiace Commuter

Singkatnya, Premio unggul pada aspek berikut:
- Suspensi lebih nyaman
- Tampilan lebih modern
- Kabin lebih lega
- Interior lebih premium
- Performa lebih stabil pada perjalanan panjang

Dengan berbagai keunggulan tersebut, Hiace Premio menjadi pilihan ideal untuk kebutuhan transport rombongan di Jogja. Kapasitas cukup, interior nyaman, bagasi lebar, dan desain elegan membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan dan aman.

Untuk kebutuhan sewa Hiace Premio di Jogja, Java Home menyediakan unit terawat, bersih, dan siap digunakan untuk berbagai keperluan wisata, gathering perusahaan, study tour, maupun penjemputan bandara.

Perbedaan Sewa Mobil Lepas Kunci vs Plus Driver: Mana yang Tepat?

Ketika mencari jasa sewa mobil di Jogja, calon pelanggan biasanya dihadapkan pada dua pilihan utama: lepas kunci atau plus driver. Keduanya memiliki karakteristik, syarat, dan kelebihan tersendiri. Artikel ini akan menguraikan perbedaannya agar Anda dapat menentukan opsi paling sesuai dengan kebutuhan perjalanan Anda. Sewa mobil lepas kunci adalah layanan rental mobil tanpa pengemudi. Penyewa memegang kendali penuh atas kendaraan dan jadwal perjalanan.

Keunggulan lepas kunci:

- Privasi lebih terjaga dalam perjalanan
- Fleksibel memilih jalur atau lokasi berhenti
- Cocok untuk perjalanan personal dan keluarga
- Lebih ekonomis jika digunakan dalam durasi lama

Kekurangan lepas kunci:

- Perlu memiliki SIM dan pengalaman mengemudi
- Tanggung jawab kerusakan dan keamanan lebih besar
- Tidak cocok bagi yang tidak paham rute Jogja
- Potensi lelah saat wisata karena menyetir sendiri


Sewa mobil All-in (Driver + BBM)

Sewa mobil plus driver adalah layanan rental mobil dengan pengemudi profesional yang disediakan penyedia jasa.

Keunggulan Sewa All-in:

- Tidak perlu pusing soal rute dan parkir
- Wisata lebih nyaman dan tidak melelahkan
- Pengemudi biasanya memahami destinasi populer
- Aman untuk rombongan, keluarga, dan tamu perusahaan

Kekurangan Sewa All-in:

- Biaya sedikit lebih tinggi karena jasa pengemudi
- Jadwal perjalanan lebih terstruktur
- Privasi di dalam kendaraan sedikit berkurang

Mana yang lebih tepat untuk Anda?

Pemilihan opsi sangat dipengaruhi oleh tujuan dan karakter perjalanan Anda:

- Jika Anda ingin fleksibilitas dan privasi, serta terbiasa menyetir, maka lepas kunci adalah pilihan tepat.
- Jika Anda berwisata, butuh kenyamanan, membawa tamu, atau tidak ingin mengemudi di medan yang tidak dikenal, maka plus driver lebih aman dan praktis.

Tips memilih penyedia Sewa Mobil di Jogja

- Koleksi unit terbaru (Avanza, Innova, Hiace, Alphard, dll)

- Kondisi kendaraan terawat
- Pengemudi profesional dan berpengalaman
- Harga transparan (BBM, tol, parkir, overtime)
- Layanan responsif dan review pelanggan

Kini Anda mengetahui perbedaan mendasar antara sewa mobil lepas kunci dan plus driver. Sesuaikan pilihan dengan kebutuhan agar waktu di Jogja lebih optimal.
Jika Anda membutuhkan unit transportasi wisata, keluarga, ataupun rombongan, Java Home menyediakan armada lengkap dan pengemudi berpengalaman dengan sistem layanan profesional. Silakan hubungi tim Java Home untuk informasi detail armada, harga, dan ketersediaan unit.

Minggu, 19 Februari 2023

How could I become an Overthingker

Hai, udah lama nggak buka blog, apalagi nulis di blog. Untung blogspot ini bukan makhluk hidup ya, coba kalo blogspot ini manusia, udah nggak ngerti segimana malunya aku tiap ke sini pasti selalu dengan perasaan dan kondisi hati yang kacau. Seperti yang aku tulis di halaman atas bahwa menulis adalah caraku untuk mengungkap yang tak terucap, karena nulis adalah pelampiasanku saat aku udah nggak tau lagi harus cerita kemana.
Aku mengawali tahun 2023 dengan sebuah masalah yang mungkin sebenernya udah lumrah dialami seorang cewek, tentang trust issue dan overthingking. Tapi di tulisan ini mungkin aku bakal bahas tentang overthinking dulu kali ya. Semasa kuliah, aku punya temen yang ngevalidasi dirinya adalah seorang overthinker, dan aku selalu nggak setuju dengan itu. Buat apa kita memikirkan hal-hal yang belum tentu benar terjadi, karna itu cuma bikin kita rugi sendiri. Kita mikirin orang lain yang padahal belum tentu orang itu punya masalah sama kita. 
Dan semasa kuliah juga, aku dikenal sebagai orang yang sangat selaw, nggak baperan, dan nggak pernah kepikiran yang berkaitan dengan hubungan, entah dari segi pertemanan atau pasangan. Dan bener, semasa kuliah aku emang udah cukup sibuk dengan kegiatanku sendiri; kuliah, organisasi kampus, organisasi global, dan masih kerja parttime. Aku nggak ada waktu untuk punya masalah personal yang bersinggungan dan seseorang. 
Lulus kuliah pun aku langsung kerja di Jakarta. We all know nggak semua orang bisa survive di kota besar sendirian, apalagi waktu itu usiaku masih 22. But I did it, I proud of myself. Sampe akhirnya pertengahan 2020 aku harus pulang ke Jogja, justru disitu aku kayak shock culture dengan segala kebebasan dan segala hal yang udah ada. Wkwk aneh ya, shock culturenya bukan waktu di Jakarta tapi justru waktu balik Jogja. Aku nikmatin waktuku untuk maksimalin main-main sampe nggak sadar ada hati yang berpotensi tersakiti.
Ternyata sakit banget rasanya ditinggal doi sama yang lain. Kayak tiba-tiba bikin kita ngrasa nggak berharga, selalu ngerasa bersalah karna nggak bisa menjadi pilihan yang dipertahankan. Sedihnya, kita nggak dapet jawaban kenapa orang itu lebih pilih meninggalkan, meskipun kalau kita tau alasannya itu pasti bikin makin sakit & makin ngerasa bersalah sama diri sendiri, ngerasa nggak berharga. Ibarat kata menggali kuburan sendiri.
Habis itu, Sempet sama orang pun kebetulan jago banget bikin overthingking. Selalu membuatku bertanya-tanya, tentang apa arti keberadaanku bagi dia sebenernya. Dia nggak pernah dengan gentle untuk mengungkapkan apa yang sebenernya dia inginkan dan dia rasakan. Sampai akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa mungkin sebenernya dia hanya megganggapku ada untuk sekedar mengisi hari-harinya. Jadi ya... ada aku alhamdulillah, kalo nggak ada yaudah :) gitu kan?
Dari situ aku baru bisa ngevalidasi perasaan overthinking. Dan emang bener ngerugiin diri sendiri, karena waktu dan energi kita terforsir untuk memikirkan hal yang gak jelas. Nggak percaya diri, nggak percaya sama orang, ragu-ragu dalam melangkah, selalu cemas dan khawatir tentang suatu hal yang mungkin akan kejadian, dan mungkin juga tidak. Belom lagi kalo ada bumbu-bumbu trust issue, asli bikin kita makin depresi. 
And that's all a story about how could I become an overthingker. Postingan ini gak bertujuan untuk memberikan self labelling of being an overthingker yah, hanya memberikan validasi bahwa hal itu wajar terjadi dan tidak cukup mudah untuk dihindari. Selebihnya bakal aku bahas di postinganku berikutnya :)

Senin, 14 Juni 2021

Tentang Harapan dan Ketidakpastian

Adanya harapan bisa membuat seseorang mampu bertahan. Adakalanya juga melepas harapan harus dilakukan untuk mengurangi ketidakpastian. Mungkin benar apa katamu, aku tak cukup percaya diri untuk bisa menjadi pasangan yang tepat. Tapi apakah kamu tau? Kamu pun tak pernah meyakinkanku jika memang benar-benar kau membutuhkanku. Kau tak pernah mengungkapkan jika memang benar-benar ingin terus bersamaku. Wajarkah jika aku berpikir bahwa hanya aku saja yang menginginkanmu? Hingga sampai akhirnya, kamu pun melepasku tanpa sedikitpun usaha mempertahankan. Sekecil studi kasus yang aku lontarkan, memancingmu dengan mudah melepaskanku. Kamu bahkan tidak mempertanyakan lagi, apakah keputusan itu benar baik bagi kita berdua, atau hanya ego semata. Aku yang bahkan tak berniat ke arah situ, harus terpaksa menahan diri untuk melihat reaksimu dan mengikuti alurmu. Aku menahan diri untuk tidak memaksakan keadaan. Aku menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengungkapkan. Biarkan saja, biar aku yang melihat bagaimana reaksi dan perasaanmu yang sebenarnya.

Mungkin aku akan tidak terima Ketika suatu saat nanti kamu membaca tulisan receh ini dan menganggapku remeh, menyepelekan setiap kalimatku begitu saja. Tapi setidaknya untuk saat ini, apa yang aku tulis di sini adalah segala apa yang aku rasakan, yang mungkin belum sempat terucap dan terungkap. Dan segala apa yang aku tuangkan di sini, adalah murni upayaku untuk mencairkan beban yang menggumpal, murni menyampaikan pertanyaan yang berhenti di tenggorokan.

Jumat, 14 Februari 2020

Ulang Tahun Kedua di Perantauan (2020)

          Tepat satu tahun aku bekerja di Ibukota. Menjalani hari-hari bersama kolega yang selalu bekerja dengan tak lupa bercanda. Aku nyaman di sini, di tempat ini, bersama mereka. Diluar konteks tekanan kerja, tim kami bekerja layaknya keluarga. Dengan jiwa-jiwa muda, kami memiliki selera humor yang sama. Milenial, begitu konsep pekerjaan di perusahaan kami. Berbeda dengan cerita ulang tahunku sebelumnya, kali ini aku merasa sangat dirangkul sekali. 
          Ucapan selamat, lantunan lagu, potong kue dan tiup lilin, menjadi cerita bahagia di hari Kamis, 16 Januari bulan lalu. Aku sangat-sangat bersyukur dengan tim ini. Sebagai yang termuda, aku menganggap mereka semua kakak-kakakku. Begitu pula dengan mereka memposisikanku sebagai yang terbontot.
          Lepas dari tim kerja, aku beralih kepada teman-teman sebaya yang pernah menjadi bagian dari rekan kerjaku. Lebih tepatnya, mereka yang tak bertahan lama disini. Kami masih menjalin hubungan baik meski sudah tak menjadi satu atap perusahaan. Bahkan kami menghabiskan waktu bersama untuk merayakan pergantian tahun baru 2020 di Bandung. Mereka teman sebayaku, mereka teman di perantauanku.
          Berbicara tentang mereka di perayaan ulangtahunku, tentu tak lepas dari peran salah satu orang terkasih yang sudah hampir satu tahun ini menjadi pelabuhan untuk hatiku. Dia yang pertama kali kukenal pada awal 2017 di kota asalku, dan baru menjalin komunikasi intens pada awal 2019 lalu. Dia yang sedang berada di pulau asalnya, menyempatkan waktu untuk mengunjungiku di Ibukota ini untuk menemaiku menyambut usia baru. Aku sama sekali tak menyangka bahwa dia bisa merencanakan ini semua. Dia memasuki ranah teman-temanku untuk menciptakan moment ulangtahunku. Lagi, potong kue dan tiup lilin di malam itu. Aku benar-benar tak menyangka, dia bisa menjadi satu dengan lingkup pertemananku yang belum pernah aku kenalkan dia sebelumnya.

Dearest, thank you for giving me such a unexpected precious moment on my day. 
Thank you for bring them out just to let me blow the candle of cake on your hand.
Thank you for being here, Thank you for being mine.

***


Jakarta, 2020

Jumat, 17 Januari 2020

Ulang Tahun Pertama di Perantauan (2019)

          Januari 2019 adalah awal adaptasiku dengan hidup baru; mengawali hari-hari sebagai seorang pekerja ibukota yang tinggal jauh dari keluarga. Aku tak punya siapa-siapa di sini, kecuali beberapa teman kuliah yang dibilang dekat pun nggak terlalu. Hingga pada saat tiba hari ulang tahunku yang ke-23, aku menyadari sesuatu; mungkin kali ini aku ditakdirkan untuk sendiri; mengapresiasi diri. 
         Aku merayakan dengan renungan. Dengan secarik kertas untuk menulis apa saja yang telah kudapat selama hidup. Lebih tepatnya tentang sebuah pendewasaan yang terlatih dari beberapa hal berat yang pernah kualami. Aku tak saja fokus dengan masalah, namun juga kureview seluruh anugerah dari Tuhan yang telah dititipkan kepadaku selama ini dengan tanpa kusadari.
      Disaat aku masih berada dalam proses pengenalanku terhadap lingkungan kerja, aku tak mendapat ucapan ulang tahun yang tulus disampaikan kecuali hanya sebatas formalitas. Baiklah, aku mengerti. Aku memang bukan siapa-siapa untuk mereka. Namun ada sebait masa lalu yang masih mengiringi penambahan umurku di kota asing ini. Rasanya keberuntungan masih sedikit memihakku sebagai anak rantau pemula.
           Dia yang sudah mengambil keputusan bulan lalu, dia yang memang kujalani dengan ragu. Akhirnya tidak ada lagi kita sejak saat itu; satu bulan sebelum ulang tahunku. Aku tidak menyesal karena aku sudah melepas dengan ikhlas. Fokus memulai hidup baru untuk bersiap bekal masa depanku, entah dengan siapa nanti. 
             Dia menghampiriku di kota ini. Sudah kuberi aba-aba bahwa tidak akan ada lagi kita setelah pertemuan kami berdua. Dia pun sepakat. Tetap menghampiri tanpa mengurungkan niat. Hambar. Semua terasa pias. Aku berjalan tanpa ada lagi perasaan. Lontaran canda dan tawa palsu menjadi teman sepanjang perjalanan itu. Aku memang sudah tidak akan bisa menjadi seseorang yang menyandingnya. Mungkin, memang lebih baik untuk sendiri. Terima kasih, atas kedatanganmu untuk menjadi satu-satunya orang yang merayakan penambahan umurku. Terima kasih untuk satu-satunya kue dan lilin yang kutiup tahun lalu.

***


Ditulis tepat satu tahun setelah kejadian,
Jakarta, 2020.

Rabu, 09 Oktober 2019

A Blessing Love

Thanks God. I’m feeling blessed today.

I finally found the one I wish to spend the rest of my life. I have indescribable feeling except love and comfort while I’m leaning on him. No reason for my fear. No space for my sadness. No one else who will love me like he will.

And again; Thanks God. 
Thank you for giving me lots of love and happiness through someone called mine. 

Dearest Mine,
May Allah bless us to the marriage as we wish.
Aamiin 🤲🏻

Jumat, 20 September 2019

A Weird Feeling

Untuk kesekian kalinya aku terjebak oleh sebuah rasa yang tak ternama. Resah, gelisah, dan gundah.
Kalau aku saja bingung dengan perasaanku sendiri, bagaimana aku bisa membuat orang lain mengerti dengan apa yang kurasakan ini?
Seringkali aku berkonflik dalam hati. Tentang apa dan kepada siapa sedihku ini harus tertuju.

Aku terjaga setiap malam, bahkan terbangun di saat lelap. Kusaksikan kalutnya fikiran yang tengah beradu dengan hati yang gundah. Aku hanya bisa terdiam tanpa menyadari air asin tengah mengalir hingga pipiku basah.

Aku benar-benar tidak tahu sampai saat aku menelusuri seluruh isi handphoneku.


***


Mungkin aku rindu. Pada setiap waktu di masa laluku. Masa yang telah kulewati tanpa bisa aku hargai. Masa yang pernah kulalui dengan tanpa keberhasilan. Masa yang berlalu begitu saja, tanpa sempat kumembuat orang-orang di sekitarku bahagia.

Teruntuk diriku dua tahun yang lalu; maaf telah kuabaikan beberapa moment berhargamu. Maaf telah kuambil alih sebagian jalan menuju kebahagiaanmu.

Aku yang saat ini sedang tak tahu tentang perasaanku, sedang merancang kembali jalan kebahagiaan yang sempat terlewat. Teruntuk diriku dan masa depanku, besar harapanku untuk bisa membahagiakan diriku dua tahun lalu, diriku di masa lalu, dan orang-orang disekitarku.

God bless you dearest Cece, make your cildhood be proud of you.

Senin, 14 Agustus 2017

Garis Hitam Kepercayaan

Maaf jika akhirnya aku tak kuasa untuk memendam rasa. Kupikir aku sanggup bersembunyi dibalik jiwa sok tegar yang baru saja kulatih beberapa bulan terakhir ini. Maaf telah menggunakan media ini sebagai saluran rasa kecewa. Ya, aku kecewa. Bukan tentang sebuah pembatalan untuk berjumpa, tapi lebih kepada persembunyian; suatu hal yang tidak dikomunikasikan.

Teruntuk kamu yang kupercaya menjadi pendampingku,
Teruntuk kamu yang kuhargai sebagai pilihanku,
Teruntuk kamu yang kupercaya untuk bertanggung jawab atas segala komitmen dan janji-janji,
Aku akan tetap menjadi wanita yang kuat meski kelak kudapati sebuah kebohongan dan pengkhianatan. Segalanya akan tetap mudah bagimu, karena tinggal saja kucabut kepercayaan yang sempat kutitipkan, tanpa adanya tuntutan. Tak perlu meronta, aku akan berjalan dengan senyum yang kusisakan.


Maaf aku terlalu menghargai hidupku, yang tak akan kubiarkan lama dengan orang yang tak menghargaiku. Maaf untuk mahalnya harga kesempatan kedua, yang akan sangat langka untuk kuberikan pada orang yang pernah ingkar.

Jumat, 20 Januari 2017

A bless and precious days

“Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu, sebenernya emang pengen ngasih sesuatu  sejak selesai project itu sih, tapi baru sempet sekarang.” Lalu dikasihlah bunga mawar ke aku, kaget sih HAHAHA. Antara kaget dan heran, soalnya memang belakangan ini aku pengen buket bunga!:( tapi ya ga tau mau ngode ke siapa kan ga punya siapa-siapa HAHA.
“Ya tapikan ini bukan buket,” katanya.
“Ya tapikan masih sama-sama bunga, sama-sama yang aku pingin,” jawabku.
Haduh ya ampun ga nyangka kan dapet sesuatu yang dipingin dari unexpected person:( ya meskipun setangkai sih, coba kalo segepok (gebet aja tukang kebun Ce)
***
Ada tukang pos tuh dateng, tapi ya peduli amat dah paling kiriman paket online shop pesenan anak kost. Terus beberapa detik kemudian Ada yang panggil namaku. Heran sih biasanya namaku ga akan terpanggil kalau ga ada perlu sesuatu *ngenes banget. Terus waktu aku keluar, disambutlah aku dengan seorang lelaki dengan seragam rapinya, Pak Pos.
“Mbak Cecelia? Ada kiriman dari China.”
“China?” heranku dalam hati, sambil menerima paket tersebut. Kotak. Cukup besar, dan agak berat. Terus waktu liat tulisannya, ya elah huruf apaan ga paham ga bisa baca :( Tapi dari tulisan tangannya, aku tau siapa itu. Memang tertulis Republic Of China, tapi kutahu ini kiriman dari seseorang di Taiwan. Lalu aku tanda tangan lah bukti penerimaan di dokumen pak pos.
“Dari siapa?” tanya Bapak.
“Ya siapa lagi kalau bukan Wendy,” jawabku enteng. “Tapi dia ngga bilang apa-apa, dan ngga ada tanda-tanda mau ngirim sesuatu juga,” tambahku.
Kami terdiam heran. Beberapa saat kemudian kami menyadari sesuatu......
“Kado ulang tahun!” ucap kami berdua bersamaan.
Makin sumringah aku! Kedatangan pak pos memang selalu mengejutkan bagi siapapun yang mendapat kiriman. Begitu juga aku, selalu suka dengan kedatangan pak pos yang membawakan sesuatu atas namaku. Ya, ini bukan pertama kalinya aku menerima paket. Karena sejak dua tahun terakhir ini aku bertukar postcard dengan beberapa orang. Beda kota maupun beda negara. 
Aku masih ingat pertama kali mendapat postcard dari luar negeri. Saat tiba di rumah dengan rasa lelah, tiba-tiba ada surat dengan gambar pemandangan yang khas dari negara pengirim, tergeletak di kasurku. Siap untuk dibaca. Cukup membuatku tersenyum dan melupakan lelah seketika.
Aku juga masih ingat saat tiba di rumah dan tidak ada siapapun, kubuka pintu yang terkunci. Saat aku melangkah masuk, kaki kananku menginjak sesuatu. Sebuah kertas diselipkan tukang pos dibawah pintu. Ternyata postcard untukku. Menyenangkan.
Aku juga pernah menerima postcard secara langsung, tak kalah mengejutkan. Bahkan aku pernah menantikan kedatangan pak pos, karena waktu yang seharusnya kiriman itu telah tiba di rumahku.
Ada feeling khusus yang aku rasakan saat aku menulis dan membaca surat. Apalagi kalau tulisan tangan, lebih berkesan. Karena terkadang, menulis adalah cara mengungkap yang tak terucap.
***
Hari itu aku capek banget, ngantuk juga, abis lembur dekor acara jurusan. Sampai rumah tidurlah aku. Paginya, aku lihat hape. Ternyata ada yang telfon dini hari, pun tak kudengar. Padahal handphone ada di sebelahku. Selain itu juga ternyata udah beberapa yang ngucapin ulang tahun. What a made my dayJ saat itu aku merasa beruntung, merasa bersyukur, ketika hari lahir kita diingat seseorang, dan disiapkan oleh seseorang atau bahkan beberapa orang. Menyenangkan. bahkan, kata terima kasih masih terasa kurang untuk mereka.
Dia; seseorang yang kukenal baik sejak 2011. Mengirimkan beberapa foto yang telah disiapkan sebelumnya, dan memberikan ucapannya pada 00.01. Dalam ucapannya dia juga bilang “maybe I’m not the first.....” hahaha aku ga paham deh dia bilang kaya gitu pada jam yang harusnya dia tahu itu benar-benar saat pergantian tanggal dan hari. Apa dia merendah? Sok-sokan hmm or he wanna just make sure if he really the first wkwkwkwk “But actually you did” jawabku.
“Masih ada yang lain, nanti aku kirim lagi ya. Mau uas dulu,” katanya.
Dan sampai sekarang kami masih berkomunikasi karena dia masih ada utang itu-_- tapi dianya lagi sibuk jadi belom sempet dan pokoknya bakal aku tagih HAHA dan kudu ketemu dalam waktu dekat ini. Because kita udah ga jumpa berapa bulan yah wkwk. Dan btw, dia berulang tahun juga dua hari setelah aku. Jadi, memang kami harus bertemu *mau ngapain hayo.. ya mau cerita-cerita aja, lama ga ketemu, namanya juga maintain relation wkwk.

Pagi itu UAS terakhir. Kebetulan sekelas sama Inggrid Linda juga. Ya mereka ngucapin biasa gitu. Tapi abis selesai kelas, aku keluar, lihat inggrid duduk di bangku, eh ketawan lagi nyembunyiin kue dan mukanya kayak ketangkap basah lagi ngapain gitu kwkwkwk. “Yah gagal deh,” katanya. Aku ketawain aja, aku tanya rencananya mau gimana? Wkwk.
Habis itu kita turun ke lobby bertiga. Ketemu sama dua orang, satu cewe satu cowo. Mereka crewku saat produksi dan juga teman satu kelompok untuk acara closing PR besok. Jadi ya aku mampirlah ngobrol sama mereka. Basa-basilah minta traktiran blablabla fafifu. Terus si cowok itu tadi tanya, “mau kado nggak?” antara salting sama mupeng sih wkwk tapi tetep bertingkah konyol aja kalo sama dia no personal feeling aku jawab “Mau! Kamu mau kasih aku apa?”
“Yaudah waktu Studi Kasus ya..”
“Berati besok dong?”
“Ya kan nanti juga ketemu, waktu gladi resik.”
Habis itu aku pulang. Sorenya aku ke kampus lagi untuk dekor dan gladi resik. Dan konyol banget jam 8 harus balik rumah karena sesuatu tapi berhubung belum kelar urusan dekor jadi aku harus balik kampus lagi dan itu udah jam 9 aku ga boleh bawa motor, karena ibu tau aku bakal pulang kemaleman. Kasihan,katanya. Uhuy aku dikhawatirkan wkwkkw maklum sih ya biasa sendiri ga ada yang mengkhawatirkan #HALAH JONES MEMANG. Yaudah aku dijemput sama temenku.

Kita selesai dekor jam 23.00 lebih dikit. Turunlah kita ke parkiran. Berhubung aku capek dan pengen duduk, aku masuk mobil duluan, tapi pintunya ga aku tutup. Dan temen-temen kelompokku masih pada di luar ngobrol-ngobrol dan nungguin temen yang mau ambil motor. Tiba-tiba mereka nyamperin aku bawain kue sambil nyanyi wkwkwkwk shock berat dah aku mana kepikiran bakal disurprisein sama mereka orang sama-sama hectic dan capek juga. Pake lilin yang dari aplikasi android :” Literally roti bakar sih bukan kue tart wkwk gapapa biar bisa dimakan bareng2 lebih berfaedah lagipula tadinya waktu berangkat aku bilang pengen roti bakar :” eh gataunya diwujudin sama mereka :” Lagi nyanyi dan sorak sorak eh malah ditegur satpam :”
Itu di mobil aku berlima, 4 lainnya cowok semua dan aku bodo amat. Ga langsung pulang ternyata masih dibawa ke palagan dulu :” dan ke jakal dulu :” Oh iya disitu juga ada temenku yang tadi siang nawarin kado. Terus si mulut hobi nyablak ini spontan bilang “Eh tadi siang kayaknya ada yang utang sesuatu deh”. Terus ternyata dia ngerasa, dan tanpa ditagih dia ngeluarin sesuatu dari tas. “Iya-iya ga lupa kok” sambil dia kasih kotak kado WAKAKA ANYING NGAKAK SHOCK BERAT DIKASIH BENERAN aku kan ga nyangka huft kampret jadi gaenak kan -_- dan itu divideo sama temnku hm ok melting eug :l
Beneran jadi ga enak :( tapi seneng sih :( wkwk
“Tapi ada syaratnya, nanti abis dibuka tolong kasih skala 1-10 seberapa seneng kamu sama kadoku”
***
THE DAY CLOSING PR
UHUY FREEDOM COME TO MAMA!HARI INI SAATNYA MELEPASKAN BEBAN SEMESTER!
Setelah ini selesai aku akan hidup tenang wkwkkw lebay. Ga usah banyak cerita lagi uda capek wkwk oh iya here i got damn good news for the damn unexpected thing. My group was announced due to the achievement of being favorite group! Xoxo thanks a lot! Kata temenku “selamat ya cece, lumayan ya bisa jadi kado ulang tahun” wkwk bersyukur sih, bisa ngebayar rasa capek dengan rasa senang dan kepuasan. Bisa ngebayar waktu yang tersita selama dua hari itu buat nunda rencana makan-makan sama keluarga
***
19 Januari 2017 masih dapet surprise lagi subhanallah alhamdulilah terima kasih riqqah kakdika dan kakmuthia emang the best working partner ever! Tahun ini adalah tahun kedua dirayain sama mereka, tahun kemarin juga disurprisein sama mereka bertiga.  Kalo yang kemaren sampe didekor-dekorin segala aw :” love you max!
***
Author's closing statement:
Orang-orang silih berganti membuat harimu menyenangkan. Padahal, jauh di dalam sana ada sesuatu yang kamu rasakan; kehilangan. Sederet pertanyaan dan penantian menyita waktu dan emosimu. Justru disitulah kamu belajar; memaknai hidup secara luas, bertanggung jawab pada diri sendiri, and how to make a deal with a person who left without saying good bye.


Regards,
Birthday Girl



***

If you don't mind to vsit my previous post: http://bit.ly/2jIJwOf

A privileged life

What I remember the most really in the beginning of January was just have a nice life to spend with him. But such a wrong doing, I made my close friends shocked and questioning was that the real me after I told them a crazy short love story of mine. There is one thing I realized, that I felt in love too fast. But wait, LOVE? “If it’s destroying you, then it isn’t love, my dear”. Now I’m still trying to make sure that I really don’t deserve for it. Because life is too short to spend hoping for something not seen. 
Maybe I’m just too excited with him at that time...
***
Aku selalu suka dengan cara-Nya menjawab pertanyaan dan harapan; mengejutkan. Aku sempat kehilangan diriku sendiri, terbawa oleh kisah semu yang sekarang entah dimana. Terakhir aku tau, ia berada di sana bersama sederet pekerjaan yang harus segera diselesaikan. But if you love someone, you will always have time for that person no matter how busy you are. Aku di sini tanpa tuntutan, hanya bisa mendoakan. “Jika dia orang yang tepat maka jagalah ia untukku, namun jika Engkau berkehendak  lain maka jagalah dia untuk dirinya sendiri,” pintaku.

I’m slowly moving away, try to find back the independence of me just like before I met him. But yet, I’m not blaming him, I’m not blaming that person, I’m not blaming the way he treat me, I was just trapped! Luckily I don’t forget how to be responsible with my own story.  Aku mencoba kembali menghidupi hari, tanpa bantuan seseorang yang pernah menjadi alasanku bangun pagi. Sampai pada saat dua hari sebelum ulang tahunku, Tuhan menyadarkanku, aku terlalu berharga untuk terluka. Aku berhak untuk bahagia.

Malam itu aku menemui seseorang yang sudah hampir dua tahun kukenal. Seseorang yang pernah menyimpan rasa lebih, namun kujaga untuk kami tetap berteman. Kami bercerita banyak hal, tentang kisahku, juga kisahnya. Aku bercerita tentang orang yang kusuka, begitu juga dia. Tentang wanita yang ia beri kesan saat pertama jumpa, tentang alasan ia mengaguminya, tentang perasaan dan harapan yang sempat terucap, juga tentang cara ia melupakan, menghapuskan perasaan. Seseorang yang diceritakannya, tidak lain adalah aku. Yang juga sedang menjadi lawan bicaranya.

Mendengar cerita itu, aku lebih bisa menghargai diriku sendiri. Bahwa masih ada yang peduli dan menyayangi. Sepertinya, waktu pun akan lebih berharga untukku bersama mereka, orang-orang sekitar yang nyata dengan kisahnya. Daripada meragukan sesuatu dengan angan yang kita ciptakan sendiri.

Bulan kemarin aku tersesat. Sebuah rotasi menguasaiku, tak berpedoman. Arah yang kuikuti semakin lama semakin pias. Aku terjebak. Rasanya kalut. Antara ingin berjuang memperjelas yang pias, atau kembali, menelusuri tempat semula. Kemudian aku diam berdiri. Kata hati kupasrahkan pada Tuhan. Perlahan aku melangkah, dengan keyakinan bahwa Ia bersamaku. Sekarang ini, aku merasa lebih tenang. Sesekali aku menengok ke belakang, mengamati tempatku tersesat. Tempatku kehilangan diriku sendiri. Tak begitu menyeramkan, hanya saja aku tak mau sendiri di sana. 
Would you be with me?
If YES then show up, If NO just let me know. Because this life is so privilege to be idle.


Salam,
Boneka Pucca.
***
If you don't mind to visit my next post: http://bit.ly/2iLS2wV

Rabu, 11 Januari 2017

Aku, Kamu, dan Sabtu

Aku lelah berkeluh kesah. Mengeluhkan seseorang yang mungkin tak menjadikanku sebagai tempatnya meluangkan waktu. Sungguh hanya orang baru dan aku sadari itu.
“Kadang aku masih suka lupa kalau aku sudah punya kamu,” pengakuanmu sore itu.
Aku tak heran, kita masih dalam tahap beradaptasi. Bahkan memang seharusnya butuh waktu lebih. Terlalu cepat dan memang kuakui itu.
Ada yang tau rasanya? Mengutamakan seseorang yang sepertinya tak mengutamakan kita. Ketika berharap namun pengabaian yang kita dapat.
Mungkin Sakura tau, saat sayatan tipis mendarat di kulit batangnya.

Aku masih ingat Sabtu itu. Pertemuan pertama, kamu menjemputku.
Bahkan hari-hari sebelum itu, masih terekam baik di otakku. Saat di mana kita saling bertukar pesan. Saling membalas. Menjaga obrolan agar tetap menyenangkan. Dengan ritme yang takperlu menunggu lama.
Lebih dari sekedar ingat, aku merindukannya.

Semenjak Sabtu itu, hari-hariku menyenangkan. Pertama jumpa kita lalui seharian. Sedari terang hingga petang, semuanya berjalan terasa cepat. Kupikir ini awal yang baik untuk saling mengenal.
“Sejak kita pertama ketemu itu aku sebenernya pengen ngajak kamu video call, tapi aku malu” katamu beberapa hari yang lalu.
Padahal, memang semenjak itu kita seringkali bercengkrama lewat telepon. Dengan atau tanpa video. Ya, semenjak itu dan juga kala itu. Dengan artian, kini sudah tidak lagi.

Setiap pagi sebelum kamu berangkat kerja, dan seringkali malam kausisakan waktu untuk terjaga.
Bahkan aku ingat, aku berjuang keras membangunkanmu pagi itu. Semua media kugunakan, kulakukan berulang. Aku tak ingin kamu bangun terlambat.
Sampai suatu ketika, kulakukan itu di siang hari. Kamu tak suka. Posesif, katamu. Satu kata deskripsi diri yang takpernah kuterima sebelumnya. Seperti apa yang kubilang tadi, kita masih dalam tahap beradaptasi.

Sejak siang itu kami mengambil jalan tengah. Kami berdua mengalah. Dia yang belajar untuk mengabariku, dan aku yang belajar untuk tak kerap kali menghubunginya.
Baiklah.
Empat hari aku aku mencoba. Aku tahu kamu sadar, frekuensi tap notifmu berkurang.
Dulu aku percaya, salah satu cara mendapat perhatian adalah dengan cara tak memperhatikan. Tapi ternyata, hal ini takbisa kubuktikan.
Aku masih tetap, menahan dan mengharapkan kerinduan.

Mulai terpikir, jika kamu terlalu lama beradaptasi, mungkin aku akan lebih dulu berhasil; terbiasa tanpa kehadiranmu. Dan aku takut itu menjadi awal yang kurang baik.
Sabtu kemarin aku bertanya, apa yang kamu rasakan dengan ada dan tidak adanya aku? Diam sejenak, kamu berpikir. “Sama aja,” katamu. Ditambah dengan dua tiga kalimat pendukung lainnya, aku sudah menebak. Dari sikapmu pun aku tak berharap banyak.

Aku tak berharap banyak............

Seandainya pertanyaan itu berlaku untuk diriku, aku akan menjawab; dengan adanya kamu aku bahagia, dengan tidak adanya kamu aku merindu.


Salam,
Gadis yang telah lama tak membuka hati
***
If you don't mind to visit my previous story: http://bit.ly/2iLN1Ev

Sabtu, 31 Desember 2016

Am I surely ready for it?

kukira telah siap
membuka hati dan menjalani
melepas masa sendiri

kukira aku kuat
lebih kuat jika bersama
berdua, bercerita, dan bahagia

aku berubah,
dimana aku yang mandiri?
dimana aku yang biasanya baik baik saja saat sendiri?

alasanku tak dari dulu
mencoba buka hati dan menjalani
entah dengan siapapun yang mendekati

karna aku tak sesembarang itu
menyirami benih yang jatuh di tanahku
membiarkannya subur dan kemudian layu

namun tetap tiada penjelasan
tentang sekarang
tentang aku yang memilihmu

kukira telah tepat
tapi, kenapa tetiba meragu?
kuakui hatiku beralih takut

jika benar kujatuh cinta terlalu cepat,
maka kuharap dialah orang yang tepat
setelah masaku menghidupi kesendirianku
setelah pengabaianku terhadap mereka yang terdahulu

namun jika ini salah
kuharap Tuhan cepat hentikan
sebelum kami terjebak terlalu jauh
atas hati yang singgah dengan rasa yang semu

aku tak mau hati yang kukuatkan setahun ini rapuh lagi
aku tak mau sesuatu yang tertata rapi tergores lagi
pun tak mau ia gagal lagi dalam mencari

I'm afraid of hurting and losing, so thats why I'm hoping that we both being the last of a seeking.



***
If you don't mind to visit my next post: http://bit.ly/2j37Ury

Jumat, 04 November 2016

UPN “Veteran” Yogyakarta Hadiri The 11th CRISU-CUPT International Conference 2016

Chiang Mai, Thailand – UPN “Veteran” Yogyakarta baru saja menjadi salah satu peserta acara yang bertaraf internasional dari university council Indonesia – Thailand. Diantaranya adalah Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K., M.Sc sebagai rektor universitas, bersama tiga dekannya yaitu Dr. Machya Astuti Dewi, M.Si (Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik), Dr. Ir. Suharsono, M.T (Fakultas Teknologi Mineral), Partoyo, S.P, M.P, Ph.D (Fakultas Pertanian) serta dua delegasi mahasiswanya yaitu Cecelia Dwi W (Ilmu Komunikasi) dan Wisnu Harimurti (Teknik Geologi).

CRISU – CUPT (Council of University President of Thailand) merupakan sebuah konferensi internasional sebagai bentuk persahabatan antara perguruan tinggi di Thailand dan Indonesia. Untuk kesebelas kalinya, CRISU – CUPT diadakan pada 28-31 Oktober 2016 dengan tuan rumah penyelenggaranya adalah Maejo University, Chiang Mai, Thailand. Tema besar yang diusung yaitu “Global Challenge for the Future of Universities toward having a Green Economy”. Sebagai pembuka, diadakan trilateral konferensi yang membahas isu terkait dengan tiga pembicara representatif dari Indonesia, Thailand, dan Perancis.

CRISU-CUPT terdiri dari tiga forum yakni forum rektor, forum dekan, dan forum mahasiswa. Topik diskusi yang diangkat dalam forum mahasiswa yaitu “Strengthening Indonesian-Thai Student Interaction to Prepare ASEAN Future Leaders”. Dalam forum diskusi ini, para delegasi mahasiswa membahas bagaimana caranya menguatkan hubungan interaksi antara kedua negara demi mempersiapkan calon pemimpin bagi ASEAN. Tak hanya dari Indonesia dan Thailand, forum ini juga menghadirkan beberapa mahasiswa pertukaran pelajar dari Filipina dan China untuk bertukar pengalaman dan turut serta memberikan aspirasinya tentang kepemimpinan anak muda di ASEAN.

Hari terakhir acara The 11th CRISU-CUPT International Conference 2016 adalah mengunjungi Maejo University, terlebih lahan pertaniannya sebagai fasilitas yang diunggulkan dari fakultas terbaiknya; Fakultas Pertanian. Campus Tour tersebut sekaligus menjadi agenda penutupan dengan rangkaian acara makan malam yang telah disiapkan panitianya.

***


Ditulis oleh: Cecelia Dwi W
Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta
Sebagai tugas laporan kegiatan delegasi

Press release juga dimuat di:



Senin, 18 Juli 2016

A sweet hurt

Aku takut, kembali berjarak seperti saat belum berjumpa.
Seandainya kamu tahu, komunikasi virtual ini membosankan.
Menggerogoti perasaanku.
Perasaan... suatu kebahagiaan untuk bersanding.
Menapaki jejak kota, bersama mengukir cerita.
Suara maskulin dan perangai yang baik, berbalut aura kedewasaan.
Bak kejutan dalam kado istimewa yang kausembahkan.
Aku benci untuk kembali, hari liburku berteman sepi.
Aku benci kamu kembali,
Menjauh… terpisah jarak tehubung virtual.
Mengapa harus kembali, setelah kesan hebat yang kamu tinggalkan?
Syukur kamu tidak tinggal lebih lama, karena aku takut jatuh cinta.

Meski takdir harus kembali, aku tetap bersyukur
Pernah berada tepat di belakang punggungmu
Berjalan tepat di sampingmu
Dan tersenyum tepat di hadapanmu.

Aku mengagumimu..




Salam,
Seseorang yang akan terus menjadi temanmu



Minggu, 24 April 2016

Kedekatan tak harus berakhir pacaran, kan?

Sore ini kita bertemu, di acara kecil keluargaku. Setelah pertemuan terakhir kita saat lebaran tahun lalu. Kenapa? Kenapa harus pertemuan yang tak disengaja? Kenapa harus bertemu dalam momen keluarga? Kenapa...tidak ada lagi komunikasi di antara kita?
Senyum, tatap, dan jabat tanganmu...selalu membawaku pada memori kala itu. 
Kala aku tak sadar saat kamu menanti
Kala aku tak sadar saat kamu merasa tersakiti
Kala aku tak sadar saat kamu memutuskan untuk pergi
menghentikan penantian, dan melepas harapan.

Hei, aku tidak bermaksud untuk semua itu. Kedekatan tak harus berakhir dengan berpacaran, bukan? 
Lalu, apa aku salah jika sekarang kuingin bertanya kabar?
AKu berharap kamu tidak sedang menghindar...
Itu sudah hampir tiga tahun yang lalu, aku yakin kamu sudah melupakan. Sekarang, tidak ada salahnya kan jika kita berdua berbagi cerita tentang masing-masing hidup kita?


Salam,
seseorang yang kamu anggap
pemberi harapan palsu.

Rabu, 09 September 2015

The Agent of Change


Sudah cukup aku hidup jadi benalu. Terkatung-katung menjalani aktifitas harian tanpa tau tanggung jawab dan tujuan masa depan. Berbicara masa depan, sedikit menyeramkan, memang. Karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari. Terlebih, perubahan pikiran yang bisa melanda kapan saja.

Sembilan belas tahun aku melahap nikmat hasil usaha dan jerih payah orang tua. Ya, meskipun aku masih menjadi tanggungan mereka, tapi, tak ada yang tau kan kalau (maaf) krisis ekonomi bisa melanda kapan saja?
Selama ini, aku adalah konsumen aktif untuk tiap rejeki yang mereka dapatkan. Uang, terutama, dan yang paling utama. Cuma bisa merengek, minta ini atau itu, untuk keperluan ini dan juga itu. Minta-dikasih-habis-minta lagi. Begitu seterusnya.

Aku, remaja yang usianya hampir dua puluh tahun ini, belum sepenuhnya hidup mandiri dan berkembang. Haha, mandiri? Tau apa aku tentang kata itu? Apalagi berkembang.

Sore kemarin, aku berpikir. 
Aku sudah lulus SMA, dan kini menyandang status sebagai mahasiswa. Mahasiswa, dosenku bilang itu terdiri dari dua kata, yaitu Maha dan Siswa. Siswa yang paling maha? Mungkin begitu, atau bukan? Oke, lupakan. Yang intinya, aku bukan sebuah robot yang setiap pagi dibangunkan oleh  dering alarm untuk kemudian mandi dan pergi sekolah dengan berseragam rapi. Aku bukan robot yang disetting untuk belajar di sekolah selama delapan jam dan kemudian pulang untuk tidur siang. Aku bukan robot yang menjalani aktifitas rutin tanpa hasil yang memuaskan. Pas-pasan.

Justru aku merasa mati, tidak hidup. 
Tadi pagi aku terbangun dan bangkit, baru akan mencoba untuk hidup. Menghidupi kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa aku tidak mau, tidak bisa, dan tidak boleh terus-terusan seperti itu. 
Aku harus bisa mencetak perubahan dan mengembangkan diriku sendiri, dari segi apapun. Tak mau lagi seperti kemarin, seperti anak SMA yang hanya tau sekolah tanpa tau buat apa, kelak akan bagaimana, dan mau jadi apa. Kalau cuma kuliah, sedikit belajar, main-main dan minta duit, apa bedanya aku dengan saat SMA? Tidak ada. Sungguh buruk, kan? Betapa kasihannya aku kalau masih saja menikmati zona nyaman sebagai benalu, seperti tak tau apa artinya hidup yang sesungguhnya.


Belajar yang rajin dan menjadi berprestasi itu sudah cukup membuat Ibu bangga, katanya. Tapi, kok garing ya? Lagu lama, sudah basi. Tenang saja, Bu, aku akan menjadi lebih dari itu. Yang InsyaAllah tidak akan (lagi) mencampur-adukkan kebutuhan pribadiku bersama tanggunganmu. Sudah cukup banyak beban yang kaupikul, meski kaupikir aku tak tahu. Tapi sungguh, aku melangkah untuk sedikit merasakan bagaimana pekerjaan sehari-harimu, dan bagaimana berjuang untuk seamplop uang.



With love,
A daughter who wants to be as great as you, Mom.

Minggu, 19 Juli 2015

Cerita alay versi Cecelia

Bener-bener nggak kerasa, kalau puasa di bulan Ramadhan sudah kulalui hampir selesai. Tiba-tiba aja aku sadar kalau lebaran tinggal tiga hari lagi. And I can't believe, time runs so fast. But I know the reason, thats exactly due to my duty in Aiesec's project! Jadi, satu bulan Ramadhan full ini aku jalani dengan enjoy, aku lebih fokus dengan hari-hariku daripada menghitung mundur akan kedatangan 1 Syawal.


Singkat cerita, aku hampir jarang punya waktu ngumpul sama keluarga, kala itu. Bahkan beberapa hari aku ngga tidur di rumah karena midnight meeting di luar dan beberapa logistic preparation untuk main event projectku. Tapi mendekati lebaran itu juga, saudaraku dari Sumatra yang entah sekian tahun ga berjumpa, dateng ke rumah. Tapi kayanya ngga ada 10 menit aku ngobrol sama mereka, meski di rumah yang sama :") Di saat itu, as always ibuku njahitin baju lebaran seragam keluarga. Nah karena penjahit langganan sejak jaman baheulak itu kerjanya agak lelet, so we try to looking for another one yang artinya harus ukur baju lagi. Tiap kali ibu suruh aku, aku selalu bilang "iya besok" sampe lebih dari seminggu aku menunda. 


***

FINALLY! Main Event terlaksana juga! itu artinya.....project selesai! yeay! 
Betapa seneng bebas dari project but it doesn't mean that i will be totally free, there are still others duty waiting for me! Sok sibuk dah aseeek~ Satu hari setelah main event, pengeeeen banget rasanya ngluangin waktu untuk me-time. Tapi sayang, ada buber keluarga besar. Kan aku mahlez gewlak, aku minta ijin untuk ga ikutan dan prefer to stay at home. Tapi, you know ibu bilang apa? Dia ga setuju kalau aku ga ikut, ternyata perijinanku membuatnya kaget wkwkwk alay:( "mau ngapain kamu ngga ikut? masih ngga ada waktu juga? kenapa, kamu bisa menghargai banyak orang lain tapi menghargai keluarga aja ga bisa?" 
dag dig duar, why should I hear that? WHY OH WHY MOM~ Jujur sih aku orangnya baperan apalagi kalo kena sentak ortu wkwk dan kalimat itu, buat aku kian merasa bersalah. Maybe yaa aku terlalu sibux at that time but I couldnt believe mother can say that. Tiba tiba pengen peluk ibu bilang maaf tapi kok ya drama banget jadi ya yaudah sih yaa :( ALAY.


***

The other sad story, lebaran kali ini aku krisis THR. Sediiihhh banget rasanya belum bisa move on dari amplop :(( Kalo udah gede ga dapet angpau :( mau kecil aja yang seneng nerima duit 10rb!  Biasanya sih, orangtua selalu ngasih thr yang jumlahnya paling gede daripada yang lain. Tapi, udahlah, ga berani minta, ga berani nagih. Timingnya lagi ga tepat :"")) aku tau ortu lagi buanyaaaaakk pengeluaraaaann akhir akhir iniiii :""((( ditambah lagi aku mbawa 11 orang asing tinggal 2 minggu di rumah, which is penggunaan listrik dan pengeluaran air bakal bengkak sebesar cintaku padamu:(( 

jadi intinya dari postingan ini adalah, sebuah postingan tak berinti dan tak tau arah jalan pulang. Maafkan dakuu atas ketidak jelasan malam ini, aku hanya gabut duduk di teras rumah berteman kesepian.




Salam kasih sayang, 
daun yang berguguran

Selasa, 23 Juni 2015

A Broken Wing Letter

Bukan lagi alarm pagi, ataupun ayam jago yang berkokok menyambut mentari. Namun, suaramu lah yang memekakkan telinga,  menyentak ketenangan kala tidur lelapku. Mataku menjelit keluar, detak jantungku berantakan. Acak-acakan. Hal buruk terjadi di luar sana, aku tahu. Antara kau, dan lelaki yang telah lama kita cintai. Lelaki yang membimbing dan melindungi kita, seraya pohon yang dipakai berteduh seorang musafir. 

Rasanya aku ingin membenamkan wajah di balik bantal dan menutup telinga rapat-rapat, berusaha menghindari kenyataan. Tapi, tidak! Sungguh aku seperti menyeburkan diri ke dalam sumur, ketika kuberdiri menyaksikan wajah asam kalian yang menyimpan tatapan sengit. Jerit tangismu, mengisyaratkan kekecewaan yang tak terbendung lagi. Air matamu, tumpah ruah mengaliri pipi dan wajah yang selama ini kutatap menyimpan kedamaian.

Entah, kedamaian seperti apa yang akan kudapat setelah peristiwa ini. Seperti orang bilang, kertas yang sobek tak akan bisa utuh kembali. Dan aku, gadis yang tak cukup kuat untuk berdiri di antara kebohongan kalian yang saling menutupi permasalahan.

Please guys don't hurt each other, let me be loved without the broken wing story. I'm not brave enough to be there in the middle of your fuckin conflict.




Sincerely,
your single little daughter.

Senin, 01 Desember 2014

Praise of November

Today is the first day of this month and absolutely I would like to welcoming it like others. So, let me say "Welcome December" :) I just want to write this in the end of November, but I skipped my promise yesterday without any post. Sounds bad, I know. Don't be so serious because its just a post which tell about new experiences in a month.
November memberiku beberapa kisah baru, cerita baru, bersama orang baru di lingkungan yang baru. Aku lupa untuk mencatatnya dalam sebuah memori tertulis. Tapi aku sudah berniat untuk mengingatnya sampai akhirnya kutulis dalam sebuah post pengisi blog.
November menyeretku dalam lingkungan baru, dengan seluruh tugas dan tanggungjawab sebagai bumbu mutlaknya. AIESEC. Suatu organisasi mahasiswa yang pertama kali kudengar saat aku menduduki bangku kelas dua SMA. Saat itu juga aku memiliki keinginan untuk kelak ketika aku sudah menjadi mahasiswa, I will join it. Tapi faktanya, aku tidak mengejar bagaimana aku harus meraih apa yang kuinginkan. Aku lebih mengejar universitas terbaik untukku melanjutkan studiku. Sampai pada akhirnya, UPN-lah tempatku bertaut. Ketika demo ukm, aku melihat satu stand yang menyita perhatianku. Suatu stand yang terhias bendera negara-negara di dunia. Maka stand itulah yang mengingatkanku pada keinginan yang pernah aku citakan.Ya! AIESEC Yogyakarta hanya terdapat di UGM dan UPN. So, i think, join AIESEC is a must.
Finally yeahhhh~~ Im part of AIESEC INDONESIA. Cukup bangga menjadi salah satu dari 35 newies here yang melewati beberapa seleksi yang........bagi temanku itu 'enggak banget' karena mereka mengundurkan diri dengan test yang menurut mereka itu 'ribet'. But i can stand to against it, and I pass it well :)
Berkat ini juga, untuk pertama kalinya aku mengalami kecelakaan motor. Finally aku tau bagaimana rasanya tertabrak dan jatuh dari motor. Itu pengalaman pertama selama usiaku yang hampir sembilan belas ini. AIESEC memberiku kisah yang baru, untuk menjadi orang yang lebih serius dengan pekerjaan atau tugas yang harus dijalankan, juga menuntutku untuk memiliki komitmen dan konsekuen. Berdasar departmen yang aku tempati saat ini, aku punya pengalaman baru bagaimana membuat proposal dan selling pada lembaga-lembaga dengan public speaking dan attitude yang baik. Aku yakin ini akan menjadi jalanku untuk masa kerjaku kelak yang proffesional.
CRAST adalah KSM jurusan yang aku pilih, mengambil konsentrasi pada radio yang juga ternyata dijalankan oleh mahasiswi public relation. Oke, jalanku semakin dekat (?) Di sini aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku terlibat dalam sebuah event yang tidak kecil. Merry Riana dan Kemal Palevi, wow! aku terlibat dengan event mereka! Aku terlibat dalam sebuah pekerjaan yang menyiapkan event atas nama mereka.
Aku merasa November memberiku hal yang baru. Meski tidak seberapa, tapi setidaknya aku tahu bahwa ada perubahan yang terjadi dalam diriku. Dan untuk bulan Desember, aku nggak mau menjalani hari dengan 'gitu-gitu aja'. Aku harus menyiapkan perubahan lain. Di awal bulan ini, aku mulai membuka diri dan bersiap menyambut kejutan yang akan Tuhan berikan. Semoga bulan ini menutup tahun 2014-ku dengan indah dan berkesan :)