Minggu, 24 April 2016

Kedekatan tak harus berakhir pacaran, kan?

Sore ini kita bertemu, di acara kecil keluargaku. Setelah pertemuan terakhir kita saat lebaran tahun lalu. Kenapa? Kenapa harus pertemuan yang tak disengaja? Kenapa harus bertemu dalam momen keluarga? Kenapa...tidak ada lagi komunikasi di antara kita?
Senyum, tatap, dan jabat tanganmu...selalu membawaku pada memori kala itu. 
Kala aku tak sadar saat kamu menanti
Kala aku tak sadar saat kamu merasa tersakiti
Kala aku tak sadar saat kamu memutuskan untuk pergi
menghentikan penantian, dan melepas harapan.

Hei, aku tidak bermaksud untuk semua itu. Kedekatan tak harus berakhir dengan berpacaran, bukan? 
Lalu, apa aku salah jika sekarang kuingin bertanya kabar?
AKu berharap kamu tidak sedang menghindar...
Itu sudah hampir tiga tahun yang lalu, aku yakin kamu sudah melupakan. Sekarang, tidak ada salahnya kan jika kita berdua berbagi cerita tentang masing-masing hidup kita?


Salam,
seseorang yang kamu anggap
pemberi harapan palsu.

Rabu, 09 September 2015

The Agent of Change


Sudah cukup aku hidup jadi benalu. Terkatung-katung menjalani aktifitas harian tanpa tau tanggung jawab dan tujuan masa depan. Berbicara masa depan, sedikit menyeramkan, memang. Karena kita tak pernah tau apa yang akan terjadi esok hari. Terlebih, perubahan pikiran yang bisa melanda kapan saja.

Sembilan belas tahun aku melahap nikmat hasil usaha dan jerih payah orang tua. Ya, meskipun aku masih menjadi tanggungan mereka, tapi, tak ada yang tau kan kalau (maaf) krisis ekonomi bisa melanda kapan saja?
Selama ini, aku adalah konsumen aktif untuk tiap rejeki yang mereka dapatkan. Uang, terutama, dan yang paling utama. Cuma bisa merengek, minta ini atau itu, untuk keperluan ini dan juga itu. Minta-dikasih-habis-minta lagi. Begitu seterusnya.

Aku, remaja yang usianya hampir dua puluh tahun ini, belum sepenuhnya hidup mandiri dan berkembang. Haha, mandiri? Tau apa aku tentang kata itu? Apalagi berkembang.

Sore kemarin, aku berpikir. 
Aku sudah lulus SMA, dan kini menyandang status sebagai mahasiswa. Mahasiswa, dosenku bilang itu terdiri dari dua kata, yaitu Maha dan Siswa. Siswa yang paling maha? Mungkin begitu, atau bukan? Oke, lupakan. Yang intinya, aku bukan sebuah robot yang setiap pagi dibangunkan oleh  dering alarm untuk kemudian mandi dan pergi sekolah dengan berseragam rapi. Aku bukan robot yang disetting untuk belajar di sekolah selama delapan jam dan kemudian pulang untuk tidur siang. Aku bukan robot yang menjalani aktifitas rutin tanpa hasil yang memuaskan. Pas-pasan.

Justru aku merasa mati, tidak hidup. 
Tadi pagi aku terbangun dan bangkit, baru akan mencoba untuk hidup. Menghidupi kehidupan yang sesungguhnya. Bahwa aku tidak mau, tidak bisa, dan tidak boleh terus-terusan seperti itu. 
Aku harus bisa mencetak perubahan dan mengembangkan diriku sendiri, dari segi apapun. Tak mau lagi seperti kemarin, seperti anak SMA yang hanya tau sekolah tanpa tau buat apa, kelak akan bagaimana, dan mau jadi apa. Kalau cuma kuliah, sedikit belajar, main-main dan minta duit, apa bedanya aku dengan saat SMA? Tidak ada. Sungguh buruk, kan? Betapa kasihannya aku kalau masih saja menikmati zona nyaman sebagai benalu, seperti tak tau apa artinya hidup yang sesungguhnya.


Belajar yang rajin dan menjadi berprestasi itu sudah cukup membuat Ibu bangga, katanya. Tapi, kok garing ya? Lagu lama, sudah basi. Tenang saja, Bu, aku akan menjadi lebih dari itu. Yang InsyaAllah tidak akan (lagi) mencampur-adukkan kebutuhan pribadiku bersama tanggunganmu. Sudah cukup banyak beban yang kaupikul, meski kaupikir aku tak tahu. Tapi sungguh, aku melangkah untuk sedikit merasakan bagaimana pekerjaan sehari-harimu, dan bagaimana berjuang untuk seamplop uang.



With love,
A daughter who wants to be as great as you, Mom.

Minggu, 19 Juli 2015

Cerita alay versi Cecelia

Bener-bener nggak kerasa, kalau puasa di bulan Ramadhan sudah kulalui hampir selesai. Tiba-tiba aja aku sadar kalau lebaran tinggal tiga hari lagi. And I can't believe, time runs so fast. But I know the reason, thats exactly due to my duty in Aiesec's project! Jadi, satu bulan Ramadhan full ini aku jalani dengan enjoy, aku lebih fokus dengan hari-hariku daripada menghitung mundur akan kedatangan 1 Syawal.


Singkat cerita, aku hampir jarang punya waktu ngumpul sama keluarga, kala itu. Bahkan beberapa hari aku ngga tidur di rumah karena midnight meeting di luar dan beberapa logistic preparation untuk main event projectku. Tapi mendekati lebaran itu juga, saudaraku dari Sumatra yang entah sekian tahun ga berjumpa, dateng ke rumah. Tapi kayanya ngga ada 10 menit aku ngobrol sama mereka, meski di rumah yang sama :") Di saat itu, as always ibuku njahitin baju lebaran seragam keluarga. Nah karena penjahit langganan sejak jaman baheulak itu kerjanya agak lelet, so we try to looking for another one yang artinya harus ukur baju lagi. Tiap kali ibu suruh aku, aku selalu bilang "iya besok" sampe lebih dari seminggu aku menunda. 


***

FINALLY! Main Event terlaksana juga! itu artinya.....project selesai! yeay! 
Betapa seneng bebas dari project but it doesn't mean that i will be totally free, there are still others duty waiting for me! Sok sibuk dah aseeek~ Satu hari setelah main event, pengeeeen banget rasanya ngluangin waktu untuk me-time. Tapi sayang, ada buber keluarga besar. Kan aku mahlez gewlak, aku minta ijin untuk ga ikutan dan prefer to stay at home. Tapi, you know ibu bilang apa? Dia ga setuju kalau aku ga ikut, ternyata perijinanku membuatnya kaget wkwkwk alay:( "mau ngapain kamu ngga ikut? masih ngga ada waktu juga? kenapa, kamu bisa menghargai banyak orang lain tapi menghargai keluarga aja ga bisa?" 
dag dig duar, why should I hear that? WHY OH WHY MOM~ Jujur sih aku orangnya baperan apalagi kalo kena sentak ortu wkwk dan kalimat itu, buat aku kian merasa bersalah. Maybe yaa aku terlalu sibux at that time but I couldnt believe mother can say that. Tiba tiba pengen peluk ibu bilang maaf tapi kok ya drama banget jadi ya yaudah sih yaa :( ALAY.


***

The other sad story, lebaran kali ini aku krisis THR. Sediiihhh banget rasanya belum bisa move on dari amplop :(( Kalo udah gede ga dapet angpau :( mau kecil aja yang seneng nerima duit 10rb!  Biasanya sih, orangtua selalu ngasih thr yang jumlahnya paling gede daripada yang lain. Tapi, udahlah, ga berani minta, ga berani nagih. Timingnya lagi ga tepat :"")) aku tau ortu lagi buanyaaaaakk pengeluaraaaann akhir akhir iniiii :""((( ditambah lagi aku mbawa 11 orang asing tinggal 2 minggu di rumah, which is penggunaan listrik dan pengeluaran air bakal bengkak sebesar cintaku padamu:(( 

jadi intinya dari postingan ini adalah, sebuah postingan tak berinti dan tak tau arah jalan pulang. Maafkan dakuu atas ketidak jelasan malam ini, aku hanya gabut duduk di teras rumah berteman kesepian.




Salam kasih sayang, 
daun yang berguguran

Selasa, 23 Juni 2015

A Broken Wing Letter

Bukan lagi alarm pagi, ataupun ayam jago yang berkokok menyambut mentari. Namun, suaramu lah yang memekakkan telinga,  menyentak ketenangan kala tidur lelapku. Mataku menjelit keluar, detak jantungku berantakan. Acak-acakan. Hal buruk terjadi di luar sana, aku tahu. Antara kau, dan lelaki yang telah lama kita cintai. Lelaki yang membimbing dan melindungi kita, seraya pohon yang dipakai berteduh seorang musafir. 

Rasanya aku ingin membenamkan wajah di balik bantal dan menutup telinga rapat-rapat, berusaha menghindari kenyataan. Tapi, tidak! Sungguh aku seperti menyeburkan diri ke dalam sumur, ketika kuberdiri menyaksikan wajah asam kalian yang menyimpan tatapan sengit. Jerit tangismu, mengisyaratkan kekecewaan yang tak terbendung lagi. Air matamu, tumpah ruah mengaliri pipi dan wajah yang selama ini kutatap menyimpan kedamaian.

Entah, kedamaian seperti apa yang akan kudapat setelah peristiwa ini. Seperti orang bilang, kertas yang sobek tak akan bisa utuh kembali. Dan aku, gadis yang tak cukup kuat untuk berdiri di antara kebohongan kalian yang saling menutupi permasalahan.

Please guys don't hurt each other, let me be loved without the broken wing story. I'm not brave enough to be there in the middle of your fuckin conflict.




Sincerely,
your single little daughter.

Senin, 01 Desember 2014

Praise of November

Today is the first day of this month and absolutely I would like to welcoming it like others. So, let me say "Welcome December" :) I just want to write this in the end of November, but I skipped my promise yesterday without any post. Sounds bad, I know. Don't be so serious because its just a post which tell about new experiences in a month.
November memberiku beberapa kisah baru, cerita baru, bersama orang baru di lingkungan yang baru. Aku lupa untuk mencatatnya dalam sebuah memori tertulis. Tapi aku sudah berniat untuk mengingatnya sampai akhirnya kutulis dalam sebuah post pengisi blog.
November menyeretku dalam lingkungan baru, dengan seluruh tugas dan tanggungjawab sebagai bumbu mutlaknya. AIESEC. Suatu organisasi mahasiswa yang pertama kali kudengar saat aku menduduki bangku kelas dua SMA. Saat itu juga aku memiliki keinginan untuk kelak ketika aku sudah menjadi mahasiswa, I will join it. Tapi faktanya, aku tidak mengejar bagaimana aku harus meraih apa yang kuinginkan. Aku lebih mengejar universitas terbaik untukku melanjutkan studiku. Sampai pada akhirnya, UPN-lah tempatku bertaut. Ketika demo ukm, aku melihat satu stand yang menyita perhatianku. Suatu stand yang terhias bendera negara-negara di dunia. Maka stand itulah yang mengingatkanku pada keinginan yang pernah aku citakan.Ya! AIESEC Yogyakarta hanya terdapat di UGM dan UPN. So, i think, join AIESEC is a must.
Finally yeahhhh~~ Im part of AIESEC INDONESIA. Cukup bangga menjadi salah satu dari 35 newies here yang melewati beberapa seleksi yang........bagi temanku itu 'enggak banget' karena mereka mengundurkan diri dengan test yang menurut mereka itu 'ribet'. But i can stand to against it, and I pass it well :)
Berkat ini juga, untuk pertama kalinya aku mengalami kecelakaan motor. Finally aku tau bagaimana rasanya tertabrak dan jatuh dari motor. Itu pengalaman pertama selama usiaku yang hampir sembilan belas ini. AIESEC memberiku kisah yang baru, untuk menjadi orang yang lebih serius dengan pekerjaan atau tugas yang harus dijalankan, juga menuntutku untuk memiliki komitmen dan konsekuen. Berdasar departmen yang aku tempati saat ini, aku punya pengalaman baru bagaimana membuat proposal dan selling pada lembaga-lembaga dengan public speaking dan attitude yang baik. Aku yakin ini akan menjadi jalanku untuk masa kerjaku kelak yang proffesional.
CRAST adalah KSM jurusan yang aku pilih, mengambil konsentrasi pada radio yang juga ternyata dijalankan oleh mahasiswi public relation. Oke, jalanku semakin dekat (?) Di sini aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku terlibat dalam sebuah event yang tidak kecil. Merry Riana dan Kemal Palevi, wow! aku terlibat dengan event mereka! Aku terlibat dalam sebuah pekerjaan yang menyiapkan event atas nama mereka.
Aku merasa November memberiku hal yang baru. Meski tidak seberapa, tapi setidaknya aku tahu bahwa ada perubahan yang terjadi dalam diriku. Dan untuk bulan Desember, aku nggak mau menjalani hari dengan 'gitu-gitu aja'. Aku harus menyiapkan perubahan lain. Di awal bulan ini, aku mulai membuka diri dan bersiap menyambut kejutan yang akan Tuhan berikan. Semoga bulan ini menutup tahun 2014-ku dengan indah dan berkesan :)